Total Tayangan Halaman

Kamis, 07 Desember 2017

Plastik Kresek Tidak Sepele

Di ****mart

Kasir : terima kasih mas (sambil mau plastikin belanjaan gw)
Saya : gag usah diplastikin mbak, saya naroh di tas aja.
Kasir : gag papa kok. Kantong plastiknya gratis..

Ok.... Kita anggap dia gag tau kalo :
1. Saya gag semiskin yang dia kira. Saya mungkin masuk kategori karyawan P7(Pergi Pagi Pulang Petang Pendapatan Pas Pasan) yang kadang masih gadai n utang sana sini buat nambal kebutuhan pokok. Tapi bukan sebuah kesombongan saya pikir kalo saya bilang saya masih mampu beli plastiknya, kalaupun itu berbayar macam kebijakan pemerintah yang lalu. Dan saya juga bukan orang yang gampang tertarik dengan kata "gratis". Karena jaman now, gratis selalu identik dengan bintang kecil (*) yang di ikuti kalimat "syarat dan ketentuan berlaku". Macam sms yang sering masuk inbok yang bilang kalo situ punya kesempatan dapat ringtone GRATIS dengan meng"iya"kan sms itu. Yang nantinya menjadi potongan pulsa berjilid-jilid yang matiinnya susah dan kadang hanya berakhir ketika kita ganti sim card
2. Mungkin mbak itu gag tau kalau plastik yang dia mau beri, akan sangat mungkin, menjadi bagian dari milyaran sampah plastik yang kalo ditumpuk setinggi mata kaki bisa untuk menutupi wilayah seluas 1,5 kali luas Indonesia yang sebenarnya sudah luas ini. Karena toh kita semua tahu, ketika plastik menjadi sampah, butuh ribuan tahun bagi tanah untuk mengurainya.
2. Mungkin mbak itu lebih gag tau kalo kita, Indonesia, adalah penghasil limbah plastik kedua terbesar setelah Cina. Sama gag taunya kalo di laut sekarang beredar 5 triliun keping sampah plastik yang bikin ikan berenang lebih giat buat menghindari sampah itu. Itu pula yang membuat air laut semakin asin, karena semakin banyak ikan yang keringatan karena dipaksa gerak mulu. Bahkan kita manusia suka menghindar kalau lewat tumpukan sampah, kan?

Akhirnya, saya hanya tersenyum lantas melangkah pergi. Saya mungkin hanya orang kecil yang tidak mungkin menyelesaikan masalah limbah di dunia. Tapi kita mungkin bisa memulai menyelamatkan bumi dengan cara kecil yang kita bisa.

Semoga tercerahkan

Menjadi Bajingan Itu Bagus

Akhirnya sampai pada kesimpulan, bahwa hidup hanyalah tentang konsistensi. Berulang ulang melakukan apa yang kita anggap benar. Melakukan apa yang yang kita mampu untuk lakukan, tanpa memperdulikan apa yang orang lain katakan atau pikirkan.
Totalitas dalam setiap proses perjalanan yang kita tempuh, memang tak pernah menjanjikan hasil akhir seperti setiap mimpi surga kita. Tapi selama itu kita yakini dan kita jalani dan banyak berserah dalam segala usaha, maka terlalu bodoh rasanya jika kita menafikan akan adanya bantuan Tuhan.

Maka jika kau memang seorang bajingan, tetaplah konsisten menjadi bajingan yang hanya bisa membebani orang sekitar dengan dengan laku seorang bajingan. Mungkin saja kelak kau akan diberi hidayah oleh-Nya, dan menghabiskan sisa hidup dengan semangat hijrah yang membumbung, atau kau akan mengalami sakit yang tak terhingga sebagai media penyucian dari dosa-dosa lampau sebelum ajal menjemput dan menorehkan kisahmu di majalah hidayah yang kemudian muncul di layar kaca dengan tagline "Kisah Nyata", Azab Seorang Bajingan.

Pada akhirnya, semoga kita semua akan tertawa minimal tersenyum, karena puncak paripurna dari lusinan derita adalah tawa. Dan seperti keramik, yang berawal dari tanah liat yang di injak digilas dibakar, namun akan berakhir dengan bentuk sebuah keindahan yang terpajang di sudut rumah, begitulah cara Allah SWT membentuk pribadi kita. Memberikan selaksa kepedihan hanya agar kita menjadi pribadi yang kuat dan selalu bisa tersenyum. Dalam menghadapi dunia yang semakin kejam yang bahkan ibu tiri pun sampai mengangkat bendera putih menyerah kalah tanpa perlawanan.

Bekasi, secangkir kopi dan puntung yang bertebaran.